KLHK Kontra Mass Tourism di Taman Nasional

0 26



Jakarta – Sesuai fungsinya, taman nasional merupakan kawasan konservasi yang tak melulu soal wisata. Oleh sebab itu, wisatawan di taman nasional pun perlu dibatasi.

Wacana terkait pembatasan wisatawan di taman nasional itu pun bergulir saat jumpa pers pengembangan wisata alam di Taman Nasional (TN) Komodo di Media Center I Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Kamis (9/8/2018).

Diungkapkan oleh Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK, Wiratno, ia kurang setuju kalau taman nasional dipenuhi oleh wisatawan dalam jumlah banyak.


“Saya tidak setuju dengan jumlah target turis yang besar-besar. Tidak di taman nasional. Sangat segmented,” ujar Wiratno.

Berkaca dari sejumlah kasus seperti kebakaran di Gili Lawa, NTB hingga maraknya sampah di puncak-puncak gunung Indonesia, Wiratno merasa perlu untuk melakukan pembatasan.

“Kita lihat capacitynya. Kalau capacitynya gak memungkinkan gak bisa lagi. Rusak alamnya nanti, hancur,” pungkas Wiratno.

BACA JUGA: Buntut Kebakaran Gili Lawa, Wisatawan Akan Dibatasi di Taman Nasional

Ditambahkan oleh Wiratno, pihak KLHK pun mempunyai studynya untuk menentukan berapa jumlah ideal wisatawan yang berkunjung ke taman nasional. Contohnya seperti di Gunung Rinjani yang masuk Taman Nasional Gunung Rinjani.

“Itu dievaluasi. Sudah ada beberapa study yang akan kita pakai. Seperti Rinjani sudah ada studynya, baru mau selesai studynya sudah ada gempa,” ujar Wiratno.

Selain berniat melakukan pembatasan jumlah wisatawan di taman nasional, Wiratno juga sempat membandingkan taman nasional dengan objek wisata populer seperti Ancol.

“Kalau di Pantai Carnival Ancol, 1 juta (wisatawan-red) boleh itu,” celetuk Wiratno.

Berdasarkan data dari PNBP, dari Januari sampai Juni 2018 TN Komodo telah dikunjungi sekitar 80.598 ribu wisman yang terdiri dari 32.611 ribu wisnus dan 47.987 wisman. (rdy/aff)




Source link – Sumber : Detik.com

Get real time updates directly on you device, subscribe now.