Tangkahan & Wae Rebo Akan Jadi Rujukan Pembangunan di TN Komodo

0 25



Jakarta – Rencana pembangunan di Taman Nasional (TN) Komodo terus bergulir. Terkait hal itu, Taman Nasional Gunung Leuser di Tangkahan dan Wae rebo akan jadi rujukan.

Dijelaskan dalam jumpa pers pengembangan wisata alam di Taman Nasional (TN) Komodo di Media Center I Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Kamis (9/8/2018), Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK, Wiratno, tidak menampik akan rencana pembangunan di TN Komodo.

Dijelaskan oleh Wiratno, rencana pembangunan oleh PT Komodo Wildlife Ecotourism dan PT Segara Komodo Lestari di TN Komodo sudah mengantongi izin dan bertempat di zona pemanfaatan wisata areal usaha.


“Pengembangan wisata alam diperbolehkan di zona pemanfaatan wisata. Saya ingin sosialisinya ditingkatkan. Pengusaha wisata sudah sosialisasi. Dari segi legalitas sudah ada,” ujar Wiratno.
Dengan keluarnya izin tersebut, secara teknis master plan dari kedua pembangun telah lolos proses panjang dan verifikasi dari pihak KLHK dan Balai TN Komodo.

Terkait pembangunan yang dilakukan oleh pihak pembangun, Wiratno pun sudah memastikan kalau semua teknisnya dibuat ramah lingkungan. Desain homestaynya pun akan dibuat seperti ruma adat di Wae Rebo, Flores.

“Bangunannya bukan bangunan hotel. PT yang itu mengembangkan semuanya sustainable. Bentuknya kayak rumah adat Wae Rebo dan Eco Lodge seperti di tangkahan,” ujar Wiratno sambil menunjukkan desain bangunan.

Lebih lanjut, Wiratno menginginkan agar TN Komodo dapat berkembang seperti Taman Nasional Gunung Leuser di Tangkahan.

Seperti diketahui, TN Gunung Leuser merupakan taman nasional di Sumatera Utara yang menjadi pusat konservasi gajah dan dikelola oleh masyarakat lokal.

“Sebetulnya pengembangan wisata ini harus melibatkan masyarakat. Yang pengembangannya berhasil di Tangkahan, 3 jam dari Medan,” ujar Wiratno.

Wiratno selaku bekas Kepala Balai TN Gunung Leuser pun paham betul akan pengembangan wisata berbasis eco tourism di sana. Tak sedikit masyarakat lokal yang tadinya adalah penebang liar, banting setir jadi penjaga hutan dan para penjaga gajah.

“3-5 tahun pendampingan. Saya dulu kepala balai di Sumatera Utara,” ujar Wiratno. (rdy/aff)




Source link – Sumber : Detik.com

Get real time updates directly on you device, subscribe now.