Mengapa Stigma dan Hoaks Soal HIV-AIDS Masih Banyak Dipercaya?

0 33



Jakarta – Penyakit yang menular banyak ditakuti oleh masyarakat sehingga memicu munculnya hoaks atau berita bohong. Salah satunya yang masih ramai hingga kini adalah soal HIV-AIDS.

Akibat hoaks, stigmatisasi juga menjadi muncul ditambah dengan pemahaman masyarakat yang masih salah kaprah terkait HIV-AIDS. Beberapa stigma yang kerap muncul adalah penyakit ini diasosiasikan dengan mereka yang berhubungan dengan sesama jenis.

Padahal, menurut data dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada Desember 2016 lalu, infeksi HIV dominan terjadi pada heteroseksual sejumlah 4.672 laporan, sesama jenis sejumlah 3.604 laporan, lain-lain sejumlah 2.448 laporan dan penggunan narkoba dengan jarum suntik sebanyak 360 laporan.


“Orang-orang yang melakukan stigma dan diskriminasi tuh rata-rata mereka belum punya pengetahuan yang cukup tentang HIV. Jadi itu tugas teman-teman yang sudah tahu atau mengidap HIV itu adalah menyampaikan, dilawan dengan edukasi. Selain itu dilawan dengan produktifitas dan dilawan dengan karya,” ungkap Suksma Ratri, salah satu pengidap HIV atau ODHA (orang dengan HIV-AIDS) saat ditemui di Jakarta Selatan, Kamis (9/8/2018).

Menurut Ratri, panggilan akrabnya, masih merebaknya hoaks dan stigma seputar HIV-AIDS dikarenakan tidak semua orang memiliki akses dari informasi. Dan jika memiliki aksespun, informasi yang mereka dapat tidak benar.

Ratri juga tidak menyarankan untuk mencari informasi seputar HIV-AIDS di Google karena akan sulit mencari klarifikasi dari informasi atau berita yang didapat. Lebih baik cari beberapa website tertentu yang memang memberi informasi yang akurat.

“Aku selalu merekomendasikan website seperti UNAIDS, Spiritia, WHO, yang betul-betul aku tahu data dan informasinya akurat. Lalu informasi disebarkan sebanyak-banyaknya. Informasi yang tepat ini kita juga mendidik teman-teman kita sendiri, orang-orang terdekat kita untuk bisa menjadi sumber informasi itu,” lanjutnya.

Jumlah kumulatif pengidap HIV di Indonesia sampai Juni 2016 sebanyak 208.930 jiwa, sedangkan total kumulatif kasus AIDS sebanyak 82.556 orang. Infeksi HIV paling banyak terjadi pada kelompok usia 25-49 tahun.

(frp/up)



Source link – Sumber : Detik.com

Get real time updates directly on you device, subscribe now.