Target Pariwisata Hasilkan Devisa USD 17 M, Ini Langkah Kemenpar

0 29



Jakarta – Menteri Pariwisata Arief Yahya menegaskan devisa dari sektor pariwisata untuk tahun ini diproyeksikan mencapai USD 17 miliar. Ia pun berharap sektor pariwisata dapat menghasilkan devisa terbesar mencapai USD 20 miliar pada 2029.

“Sudah tidak bisa dibantah lagi perilaku manusia saat ini sudah bergeser. Terlebih wisatawan milenial atau future customers. Tahun ini diproyeksikan USD 17 miliar. Tahun 2019 USD 20 miliar. Ketika USD 20 miliar maka diharapkan pariwisata sudah menjadi penghasil devisa terbesar,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (25/8/2018).

Hal itu diungkap Arief saat meresmikan tempat wisata Orchid Forest Cikole pada Jumat (24/8). Ia didampingi Sekretaris Kementerian Pariwisata Ukus Kuswara, Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi Don Kardono, dan CEO Orchid Forest Cikole Maulana “Barry” Akbar.


Ia mengatakan beberapa hal juga terus dilakukan untuk menggenjot industri pariwisata yaitu dengan memperluas promosi dan pemasaran, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, serta pengembangan destinasi wisata yang baru, salah satunya nomadic tourism di Cikole tersebut.

Menurutnya ketiga upaya tersebut terbukti mampu mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia.
Diproyeksikan pada 2019, wisman naik sebesar 500% menjadi 5 juta dan menghasilkan devisa Rp 87 miliar. Sementara untuk wisnus (wisatawan nusantara) naik 300% menjadi 2 juta, dengan total devisa total Rp 1,78 triliun.

“Untuk mencapai itu semua, kita harus membuat planning jangka panjang. Targetnya kenaikan rata-rata 21%. Maka dibutuhkan support masa kontrak lahan diperpanjang menjadi 30 tahun dan minimal luasan lahan yang digunakan mencapa 100 hektare,” ujar Arief.

Arief juga mengatakan destinasi digital juga akan menjadi potensi yang baik untuk digali agar bisa meningkatkan pariwisata. Destinasi digital adalah sebuah produk pariwisata yang kreatif dan dikemas secara kekinian (zaman now).

“Keinginan generasi milenial maupun individu yang senang ‘berbagi’ di media sosial menjadi potensi baik untuk meningkatkan pariwisata dunia digital ini. Kalau menurut bahasa anak muda adalah destinasi yang Instagramable,” katanya.

Sebelumnya, Orchid Forest Cikole Lembang ini telah melakukan nota kesempahaman (MoU) dalam Co-branding Wonderful Indonesia dengan Kemenpar pada 8 Agustus lalu. Kemudian, dilanjutkan dengan kerjasama dengan Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung pada 10 Agustus. Kerjasama dengan STP dilakukan untuk memperkuat sumber daya manusia (SDM). Khususnya dalam mengembangkan destinasi digital dan nomadic tourism.

Sekretaris Kementerian Pariwisata Ukus Kuswara mengatakan, kerja sama Kemenpar melalui brand Wonderful Indonesia dengan co-branding partner merupakan sinergi simbiosis mutualisme atau akan memberi manfaat pada kedua belah pihak.

“Brand Wonderful Indonesia (WI) memiliki posisi tawar tinggi di dunia. Dengan melakukan co-branding kita melakukan efisiensi anggaran, co-creation, dan meningkatkan exposure masing-masing brand,” kata Ukus.

Di kesempatan yang sama CEO Orchid Forest Cikole Maulana “Barry” Akbar mengatakan, untuk mengembangkan Orchid Forest Cikole sebagai destinasi digital pihaknya akan terus melengkapi teknologi digital terkini.

“Ke depan kami akan memasang sensor gerak dan suara sehingga keitka pengunjung berjalan-jalan keliling taman pada malam hari, lampu taman akan menyala sendiri di sekitar pergerakan orang,” kata Barry.

Orchid Forest juga menampilkan atraksi pada malam hari. Melalui taburan cahaya lampu warna-warni menyorot ke arah batang-batang pinus yang usianya sudah ratusan tahun. Ada garden of light, instalasi taman lampu yang interaktif mirip bunga yang berganti-ganti warna.

Permainan lighting di malam hari ini akan terasa romantis dan menarik perhatian wisatawan milenial. Apalagi banyak lokasi menjadi tempat selfie menarik. Misalnya, Wood Bridge atau jembatan gantung sepanjang 150 meter yang menyala di malam hari. Di jembatan yang bisa bergoyang-goyang dari pohon ke pohon ini menjadi salah satu lokasi favorit untuk acara pengambilan foto pra-wedding.

Taman neon, juga cukup menyedot perhatian pengunjung. Neon bulat-bulat yang disusun vertikal yang menjadi penghias suasana malam.

“Ada teras paphio, lapangan multifungsi, ada amphitheathre dengan tempat duduk dari kayu untuk menyaksikan atraksi,” kata Barry.

Menurutnya, sejak beroperasi tahun 2017 pengunjung ke Orchid Forest terus meningkat. Rata-rata 1.000 orang per-hari, bahkan saat libur Idulfitri mencapai 10 ribu wisatawan per-hari.

Pada hari-hari tertentu ketika ada pertunjukan hiburan di malam hari, pihak pengelola melengkapi dengan fasilitas tenda (camp) yang menjadi bagian dari amenitas dalam nomadic tourism. Glamour Camp (Glamping) menjadi salah satu fasilitas amenitas yang banyak digemari wisatawan milenial (mul/ega)




Source link – Sumber : Detik.com

Get real time updates directly on you device, subscribe now.