Silmy Karim, Nakhoda Baru yang Ditugasi Rini ‘Obati’ Krakatau Steel

0 23



JakartaSilmy Karim diangkat menjadi Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS). Silmy menggantikan Mas Wigrantoro Roes Setiyadi.

Silmy sebelumnya dipercaya Rini memimpin PT Pindad (Persero), selanjutnya ia juga dipercaya memimpin PT Barata Indonesia (Persero).

Ia bercerita bagaimana akhirnya ia ditunjuk Menteri BUMN Rini Soemarno untuk menakhodai Krakatau Steel yang masih merugi. Di 2017, BUMN produsen baja ini masih mencatatkan kerugian Rp 1,17 triliun.

Berikut petikan wawancara detikFinance dengan Silmy Karim, Kamis (13/9/2018):

Kemarin akhirnya ditunjuk jadi Dirut Krakatau Steel bagaimana ceritanya?
Bu Rini itu satu bulan setengah lalu panggil saya. Pak Silmy, saya mau beresin industri. Pak Silmy saya pindah ke Krakatau Steel.

Dipanggil langsung ke kantor Bu Rini?
Ke kantor berdua. Iya bu siap. Saya kan sebagai anak buah apa yang diperintahkan ya saya siap. Kemudian dari situ berproses sampai RUPSLB.

Langsung Bu Rini menunjuk menjadi Dirut Krakatau Steel?
Iya, ada proses lah di internal yang lazimnya BUMN lakukan.

Alasan Bu Rini menunjuk Pak Silmy menjadi Direktur Utama Krakatau Steel?
Karena kan industri itu kan tempat di mana ada added value. Suatu negara itu kan, sustainable ekonomi suatu negara itu kan di industri dan distribution of income. Pemerataan kan ada di situ.

Posisi sekarang di Barata masih kosong?
Ya sedang proses lah.

Cuma di situ saya melihat ini suatu keputusan yang tepat, dalam arti bagaimanapun juga BUMN punya misi sebagai agen pembangunan dan itu saya sependapat banget sama ibu bahwa BUMN harus yang terdepan dalam hal pembangunan ekonomi. Industri itu kan menyerap tenaga kerja, kemudian juga ada nilai tambah unsur pajak. Saya support banget pemikiran ibu.

Bu Rini langsung menunjuk pak Silmy?
Mau beresin industri.

Kemarin sempat di Pindad terus pindah ke Barata, mekanismenya selalu seperti itu?
Iya saya dipanggil. Saya pengin beresin local content pembangkit. Pokoknya namanya kalau prajurit, kita ikut aja. Kita siap dan udah benar itu. Dan saya harus akui kok bahwa bu Rini Menteri BUMN yang mempunyai talenta korporasi dan kemudian juga dia punya bagaimana mewujudkan misi pemerintah. Itu kan komitmen.

Bukan saya memuji, saya kan mengahadapi banyak orang. Saya kan pernah di Kementerian Pertahanan dan seterusnya kan saya pernah punya pimpinan kan. Di BKPM saya pernah. Bu Rini ini kombinasi yang langka bahwa ada suatu pengalaman korporasi, ada pengalaman birokrasi yang bisa menerjemahkan hal-hal strategis yagn diperlukan dalam mewujudkan rencana pemerintah.

Memang BUMN itu salah satu alatnya pemerintah.

Dulu pernah di BIN, di Kemenhan, di sektor berbeda. Tantangannya berbeda juga bagaimana?
Beda pekerjaannya, tapi substansinya sama memberikan nilai tambah kepada negara dan di mana pun itu kan apa yang bisa kita berikan nilai tambah.

Ketika misalnya di BKPM nilai tambahnya misi bagaimana mendatangkan investasi, karena mendatangkan investasi itu juga akan juga memberikan multiplier effect kepada perekonomian Indonesia.

Ketika di Kementerian Pertahanan itu saya lebih difokuskan untuk industri pertahanan, terus bagaimana menghubungkan bisa menarik garis hubungan konteks antara ekonomi dan pertahanan. Itu memang diskusi saya dengan pak Syafri, pak Purnomo sama pak Juwono itu di ruang itu, di tataran itu.

Terus kemudian ketika di BIN, fokus saya. Gini kan BIN itu punya, BIN concern terhadap national interest. Kan interest-nya negara itu apa gitu, nah di situ karena bidang saya ekonomi dan di bidang ilmu pertahanan dan intelijen itu bagaimana memproteksi kepentingan negara, salah satu yang menarik adalah kepentingan ekonomi. Nilai tambah itu yang saya tekankan, bagaimana kita, bagaimana peran BIN dalam memproteksi kepentingan nasional di ekonomi.

Contohnya bagaimana?
Banyak lah, kalau di BIN lebih kepada issue men-support pemerintah bagaimana pikiran-pikiran, hal-hal strategis yang bisa menjadi atensi pemerintah dalam konteks ekonomi. Bisnisnya kan informasi kalau BIN. Karena bisnisnya BIN informasi bagaimana kita menjaga kepentingan negara dalam konteks ekonomi karena bidang saya itu. Hal-hal semacam itu kan memang beda pekerjaannya, tetapi substansinya sama nilai tambah kepada negara. Mau waktu penugasan di Pindad kemandirian industri pertahanan, waktu saya di Barata bagaimana Indonesia mandiri di pembangkit, terus kemudian sekarang di KS baja adalah the mother of industry. Nggak ada baja mau ngapain, sehingga di sini kepentingannya masih sama kepentingan nasional semua.

Tantangan dari masing-masing dulu pernah di Pindad, Barata, sampai akhirnya di Krakatau Steel bagaimana?
Kalau di industri itu bagaimana Indonesia kan harus mandiri dalam hal industri pertahanan. Nggak mungkin kan kalau perang itu alutsistanya beli dari luar, satu ketauan, terus kemudian masa lagi perang bentar ya beli dulu nggak mungkin dong ya misinya itu.

Sebanyak-banyaknya yang bisa saya bikin di Indonesia, saya bikin di Indonesia. Untuk itu memang perlu dilakukan beberapa langkah kan, penambahan peralatan, penambahan produk, kemudian juga peningkatan kualitas dan seterusnya itu saya lakukan.

Ketika di Barata kita bicara mengenai pembangkit, otomatis saya cari partner-partner besar Siemens, GE masuk sampai saya ambil pabrik Siemens pabrik pembangkit kira-kira sebulan saya belum pindah. (ara/zul)




Source link – Sumber : Detik.com

Get real time updates directly on you device, subscribe now.