Mau Ganti BBM Gara-gara Pertamax Naik? Perhatikan Kompresi Mesin

0 25



Jakarta – Naiknya harga BBM non subsidi jenis Pertamax Series, disinyalir bakal memicu perpindahan konsumsi bahan bakar dari Pertamax ke Pertalite atau Premium. Mengganti jenis bahan bakar dari oktan tinggi ke oktan rendah, bakal menimbulkan sejumlah efek negatif pada motor.

“Akibatnya tarikan motor jadi terasa berat, top speed berkurang, konsumsi BBM boros, gas buang baunya tajam dan pedih di mata, mesin gampang ngelitik,”
ucap Tri Yuswidjajanto Zaenuri, pakar energi ITB Bandung, kepada detikOto (11/10/2018).

Namun bukan berarti motor tidak boleh mengonsumsi bahan bakar dengan nilai oktan lebih rendah dari Pertamax (92). Motor boleh saja mengonsumsi Pertalite
atau bahkan Premium sekalipun, jika desain mesinnya memang seperti itu.


Untuk memilih jenis bahan bakar motor yang sesuai, bisa mengikuti spesifikasi rasio kompresi mesin yang dikeluarkan pabrikan. Seperti dilansir dari laman
hondacengkareng.com, pemilihan bahan bakar harus disesuaikan dengan nilai rasio kompresi mesin motor.

Soalnya, semakin rendah nilai oktan maka bensin semakin lambat terbakar dikarenakan titik bakarnya lebih tinggi. Ini akan berakibat bensin lebih sulit menguap. Dan bensin yang gagal terbakar akibat oktan terlalu rendah dapat menyebabkan penumpukan kerak pada ruang bakar atau pada klep.

Premium dengan nilai oktan 88, ideal digunakan untuk motor dengan kompresi mesin 7-9:1. Beberapa motor Honda yang masih bisa mengonsumsi Premium, antara lain Kharisma, Kirana, Legenda, Supra Fit, dan Tiger series.

Sedangkan Pertalite yang punya oktan 90, cocok digunakan di motor berkompresi mesin 9-10:1 seperti Honda BeAT FI eSP, Mega Pro FI, Verza, dan Supra X 125. Sementara untuk Pertamax 92, wajib digunakan pada mesin motor yang berkompresi 10-11:1, contohnya Vario 150 eSP, CB150R, dan Sonic 150R. (ddn/ddn)




Source link – Sumber : Detik.com

Get real time updates directly on you device, subscribe now.